RSS

Mmm, Lycopene…

Lycopene atau yang sering disebut sebagai α-carotene adalah suatu karotenoid pigmen merah terang, suatu fitokimia yang banyak ditemukan dalam buah tomat dan buah-buahan lain yang berwarna merah. Pada penelitian makanan dan phytonutrien yang terbaru, lycopene merupakan objek paling populer. Karotenoid ini telah dipelajari secara ekstensif dan ternyata merupakan sebuah antioksidan yang sangat kuat dan memiliki kemampuan anti-kanker. Nama lycopene diambil dari penggolongan buah tomat, yaitu Lycopersicon esculantum.

Secara struktural, lycopene terbentuk dari delapan unit isoprena. Banyaknya ikatan ganda pada lycopene menyebabkan elektron untuk menuju ke transisi yang lebih tinggi membutuhkan banyak energi sehingga lycopene dapat menyerap sinar yang memiliki panjang gelombang tinggi (sinar tampak) dan mengakibatkan warnanya menjadi merah terang.  Jika lycopene dioksidasi, ikatan ganda antarkarbon akan patah membentuk molekul yang lebih kecil yang ujungnya berupa  –C=O. Meskipun ikatan  –C=O merupakan ikatan yang bersifat kromophorik (menyerap cahaya), tetapi molekul ini tidak mampu menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang tinggi sehingga lycopene yang teroksidasi akan menghasilkan zat yang berwarna pucat atau tidak berwarna. Elektron dalam ikatan rangkap akan menyerap energi dalam jumlah besar untuk menjadi ikatan jenuh, sehingga energi dari radikal bebas yang merupakan sumber penyakit dan penuaan dini dapat dinetralisir oleh lycopene (Di Mascio P, Kaiser, dan  Sies,1989).

Sayuran dan buah yang berwarna merah seperti tomat, semangka, jeruk besar merah muda, jambu biji, pepaya, strawberry, gac, dan rosehip merupakan sumber utama lycopene. Sumber lain adalah bakteri seperti Blakeslea trispora. Tidak seperti vitamin C yang akan hilang atau berkurang apabila buah atau sayur dimasak, lycopene justru akan semakin kaya pada bahan makanan tersebut setelah dimasak atau disimpan dalam waktu tertentu. Misalnya, lycopene dalam pasta tomat empat kali lebih banyak dibanding dalam buah tomat segar. Hal ini disebabkan lycopene sangat tidak larut dalam air dan terikat kuat dalam serat.

Lycopene merupakan suatu antioksidan yangt sangat kuat. Kemampuannya mengendalikan singlet oxygen (oksigen dalam bentuk radikal bebas) 100 kali lebih efisien daripada vitamin E atau 12500 kali dari pada gluthation. Singlet oxygen merupakan prooksidan yang terbentuk akibat radiasi sinar ultra violet dan dapat menyebabkan penuaan dan kerusakan kulit. Selain sebagai anti skin aging, lycopene juga memiliki manfaat untuk mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker (kanker kolon, payudara, endometrial, paru-paru, pankreas, dan terutama kanker prostat). Ini semua diakibatkan banyaknya ikatan rangkap dalam molekulnya  (Di Mascio P., Kaiser., dan Sies.,1989). Sebagai antioksidan, lycopene dapat melindungi DNA, di samping sel darah merah, sel tubuh, dan hati.

Selain bermanfaat dalam dunia kesehatan, lycopene juga bermanfaat sebagai pewarna makanan dan barang-barang dari plastik. Plastik yang diwarnai dimasak, lycopene justru akan semakin kaya pada bahan makanan tersebut setelah dimasak atau disimpan dalam waktu tertentu. Misalnya, lycopene dalam pasta tomat empat kali lebih banyak dibanding dalam buah tomat segar. Hal ini disebabkan lycopene sangat tidak larut dalam air dan terikat kuat dalam serat. dengan lycopene tidak akan luntur jika terkena air, sabun, maupun detergent. Namun, warna ini mudah rusak jika dipanaskan pada suhu tinggi, terkena minyak panas, dan bahan oksidator.

Kemampuan likopen dalam meredam oksigen tunggal dua kali lebih baik daripada beta karoten dan sepuluh kali lebih baik daripada alfa-tokoferol. Tomat yang diproses menjadi jus, saus dan pasta memiliki kandungan likopen yang tinggi dibandingkan dalam bentuk segar. Sebagai contoh, jumlah likopen dalam jus tomat bisa mencapai lima kali lebih banyak daripada tomat segar. Para peneliti, tomat yang dimasak atau dihancurkan dapat mengeluarkan likopen lebih banyak, sehingga mudah diserap tubuh (Sunarmani dan Kun Tanti, 2008).

Sifat Fisis Lycopene

Nama                             : Lycopene

NamaIUPAC               :  (6E,8E,10E,12E,14E,16E,18E,20E,22E,24E,26E)- ,6,10,14,19,23,27,31-Octamethyldotriaconta-2,6,8,10,12,14,16,18,20,22,24,26,30- tridecaene

Rumus molekul         : C40H56    (CC(=CCC/C(=C/C=C/C(=C/C=C/C(=C/C=C/C=

C(\C)/C=C/C=C(\C)/C=C/C=C(\C)/CCC=C(C)C)/C)/C)/C)C

Berat molekul             : 536,873 gram/mol

Warna                             : merah terang

Bentuk                            : kristal

Titik leleh                      : 172-173 ºC

Titik didih                     : terdekomposisi

Kelarutan Air              : tidak larut

Sifat Kimia Lycopene

Dalam larutannya, akan mengendap dengan kehadiran ion Ca2+, bereaksi dengan oksigen bebas

Reaksi :    C40H56 + n On → (n+1) R-C-O serta teroksidasi oleh zat-zat oksidator membentuk molekul yang lebih kecil dengan bentuk R-C=O. Reaksi :   C40H5    R-C=O oksidasi


 

Posted by on 20 June 2010 in Academic

Leave a comment

EKSTRAKSI ANTIOKSIDAN ( LIKOPEN ) DARI BUAH TOMAT DENGAN MENGGUNAKAN SOLVEN CAMPURAN n – HEKSANA, ASETON, DAN ETANOL

Buah tomat (Solanum lycopersicum) berasal dari Amerika tropis, ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1  –  1600 m dpl. Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Tomat tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,5  – 2,5 m, bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat. Batang bulat, menebal pada buku-bukunya, berambut kasar warnanya hijau keputihan. Daun majemuk menyirip, letak berseling, bentuknya bundar telur sampai memanjang, ujung runcing, pangkal membulat, helaian daun yang besar tepinya berlekuk, helaian yang lebih kecil tepinya bergerigi, panjang 10  – 40 cm, warnanya hijau muda. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan, bertangkai, mahkota berbentuk bintang, warnanya kuning. Buahnya buah buni, berdaging, kulitnya tipis licin mengilap, beragam dalam bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Bijinya banyak, pipih, warnanya kuning kecokelatan.

Radikal bebas adalah atom atau molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Untuk mencapai kestabilan atom atau molekul, radikal bebas akan bereaksi dengan molekul disekitarnya untuk memperoleh  pasangan elektron. Reaksi ini akan berlangsung terus menerus dalam tubuh dan bila tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, jantung, katarak, penuaan dini, serta penyakit degeneratif lainnya. Oleh karena itu, tubuh memerlukan suatu substansi penting yaitu antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas tersebut sehingga tidak dapat menginduksi suatu penyakit( Kikuzaki, H., Hisamoto, M., Hirose,K., Akiyama, K., and Taniguchi, H., 2002).

Di dalam tubuh kita terdapat senyawa yang disebut antioksidan yaitu senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas, seperti: enzim SOD (Superoksida Dismutase), gluthatione, dan katalase. Antioksidan juga dapat diperoleh dari asupan makanan yang banyak mengandung vitamin C, vitamin E dan betakaroten serta senyawa fenolik. Bahan pangan yang dapat menjadi sumber antioksidan alami, seperti rempah-rempah, coklat, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran seperti buah tomat, pepaya, jeruk dan sebagainya ( Prakash, A., 2001).

Saat ini semakin banyak beredar produk pangan kaya antioksidan. Kandungan antioksidan ini bisa meredam radikal bebas yang memicu pertumbuhan sel kanker. Buah tomat memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian untuk meningkatkan manfaat buah tomat.

Lycopene atau yang sering disebut sebagai α-carotene adalah suatu karotenoid pigmen merah terang yang banyak ditemukan dalam buah tomat dan buah-buahan lain yang berwarna merah. Lycopene merupakan karotenoid yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dan merupakan  salah satu antioksidan yang sangat kuat.  Kemampuannya mengendalikan radikal bebas 100 kali lebih efisien daripada vitamin E atau 12500 kali dari pada gluthation. Selain sebagai anti skin aging, lycopene juga memiliki manfaat untuk mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker terutama kanker prostat.

Bagi masyarakat kita tomat sudah tidak asing lagi,dalam kehidupan sehari-hari tomat memegang peranan yang penting, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Mereka sering menggunakan tomat dalam masakan selain dibuat bumbu masakan, juga enak bila dimakan mentah. Namun, kurangnya pengetahuan terhadap tomat menyebabkan masyarakat Indonesia memandangnya hanya sebagai buah atau sayur dan dijual begitu saja tanpa ada produk turunan dari buah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dikembangkan untuk menghasilkan kondisi optimum proses pengambilan lycopene dari tomat sebagai sebuah antioksidan yang baik,agar buah ini lebih dikenal masyarakat.

 

Posted by on 20 June 2010 in Academic

Leave a comment

PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP KEMAMPUAN HIDUP DAN PERKEMBANGAN PRADEWASA NYAMUK AEDES AEGYPTI

ABSTRAK

Keberadaan nyamuk berdekatan dengan kehidupan manusia dan hewan. Hal ini menimbulkan masalah yang cukup serius dikarenakan nyamuk bertindak sebagai vektor beberapa penyakit yang sangat penting dengan tingginya tingkat kesakitan dan kematian yang ditimbulkan. Salah satu jenis nyamuk yang perlu diperhitungkan yakni nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah. Keberadaan nyamuk ini perlu ditekan semaksimal mungkin mengingat jumlah korban yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu cara untuk menekan angka kematian yang disebabkan oleh nyamuk tersebut yaitu dengan memberantas siklus hidunya. Insektisida nabati merupakan langkah tepat untuk diterapkan. Salah satu jenis tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati yakni tanaman sirih (Piper betle L.). Ekstrak daun sirih mengandung zat yang dapat berfungsi sebagai larvasida dan puspasida nyamuk Aedes aegypti. Makalah ini disusun sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dan keefektifan ekstrak daun sirih dalam pelarut metanol, air dan etanol kemampuan hidup dan perkembangan pradewasa nyamuk Aedes aegypti.

Metodologi penelitian dalam makalah ini dimulai dari persiapan alat dan bahan, prosedur kerja pemeliharaan nyamuk dan pembuatan ekstrak daun sirih, pengujian, pengamatan dan anlisis data. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih yang dilarutkan dalam metanol, air dan etanol dapat berfungsi sebagai larvasida dan puspasida nyamuk Aedes aegypti. Dari ketiga pelarut yang digunakan, pelarut metanol memiliki efektivitas yang lebih tinggi dalam menekan pertumbuhan siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dibandingkan pelarut air dan etanol.

PENDAHULUAN

Keberadaan nyamuk berdekatan dengan kehidupan manusia dan hewan. Hal ini menimbulkan masalah yang cukup serius dikarenakan nyamuk bertindak sebagai vektor beberapa penyakit yang sangat penting dengan tingginya tingkat kesakitan dan kematian yang ditimbulkannya. Penyakit yang dapat ditularkan oleh nyamuk antara lain : malaria, demam kuning, cikungunya, demam berdarah, filariasis (demam kaki gajah) dan radang otak atau juga demam Nil Barat (Borror et al., 1992; Womack, 1993; Aninomous, 2003).

Dari subfamili Culicinae hanya dua genus nyamuk yang penting yaitu Aedes dan genus Culek. Nyamuk yang termasuk dalam genus Aedes yang paling penting di Indonesia adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dikarenakan keduanya adalah vektor penyakit demam berdarah (Soedarto, 1989). Selain itu juga sebagai vektor penyakit demam kuning (yellow fever) ( Soedarto, 1989; Borror et al, 1992). Di Asia, Aedes aegypti juga sebagai vektor utama virus Cikunguya (Womack, 1993). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Asia Tenggara memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 50-100 juta kasus demam berdarah dan tidak kurang dari 500.000 kasus demam berdarah memerlukan perawatan di rumah sakit. Dalam kurun waktu 10-25 tahun ini, demam berdarah merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak di Asia Tenggara (Lawuyan, 2003). Sampai saat ini penyakit demam berdarah belum ditemukan vaksinnya. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Back to nature telah menjadi trend baru masyarakat dunia di abad 21 ini, mengingat cukup parahnya dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida sintetis, dengan demikian penggunaan bahan-bahan alami sebagai pestisida nabati akan lebih bijaksana.(Aninomous, 2002). Hal ini dikarenakan pestisida nabati bersifat mudah terurai di alam (biodegradable), sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan hewan, karena residunya mudah hilang.

Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati adalah Meliacea, Annonaceae, Astraceae, Piperaceae dan Rutaceae (Kardinan, 2002). Daun sirih (Piper betle L.) yang termasuk famili piperaceae (sirih-sirihan) mengandung minyak atsiri, senyawa fenolik, glikosida, saponin dan terpenoida (Anonimous, 1998). Menurut Aminah (1995) senyawa-senyawa seperti sianida, saponin, tanin, flafonoid, steroid, alkanoid dan minyak atsiri diduga dapat berfungsi sebagai insektisida. Menurut Maheswari (2002), daun sirih dapat digunakan sebagai antiseptik. Ada pula yang mengatakan bahwa daun sirih selain memiliki kemampuan antiseptik, juga memiliki kemampuan sebagai antioksida dan fungisida (Aninomous, 1996).

Tujuan penelitian dalam makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan keefektifan ekstrak daun sirih dalam pelarut metanol, air dan etanol terhadap kemampuan hidup dan perkembangan pradewasa nyamuk Aedes aegypti

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian ini dimulai dari persiapan alat dan bahan, prosedur kerja pemeliharaan nyamuk dan pembuatan ekstrak daun sirih, pengujian, pengamatan dan anlisis data. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirih, air, etanol, metanol, air gula, kapas, pelet ikan, marmot dan larva insar III dari nyamuk Aedes aegypti. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yakni nampan plastik, gelas plastik, kandang nyamuk, blender, spoit, pipet tetes, kandang jepit marmot, botol kecil kertas dan timbangan.

Adapun langkah-langkah kerja pemeliharaan nyamuk dalam penelitian ini yakni sebagai berikut : telur nyamuk ditetaskan dalam nampan plastik yang berisi air dan diberi makanan berupa rebusan hati ayam. Telur menetas menjadi larva instar I,II,III dan IV. Larva yang telah menjadi pupa dipindahkan kedalam gelas plastik yang berisi air ¾ bagian dan dimasukkan ke dalam kandang nyamuk. Persediaan makanan bagi nyamuk jantan dewasa diberikan air gula yang dimasukkan ke dalam botol kecil. Sedangkan nyamuk betina dewasa diberi makanan berupa darah segar dengan cara memasukkan kandang jepit berisi marmot yang telah dicukur sebagian bulu-bulu punggungnya ke dalam kandang nyamuk. Nyamuk betina yang telah menghisap darah marmot akan bertelur dengan cara meletakannya pada dinding bagian dalam gelas plastik yang telah ditempeli kertas. Larva yang telah berkembang menjadi larva instar III digunakan untuk pengujian.

Prosedur kerja pembuatan ekstrak daun sirih dalam penelitian ini yakni sebagai berikut : Daun dicuci terlebih dahulu, kemudian dilayukan selama semalam untuk mengurangi kandungan air di dalamnya. Daun yang telah layu ditimbang kemudian dihaluskan dan dicampur dengan pelarut air, metanol dan etanol dengan perbandingan 1 gram : 1 ml. Campuran ini kemudian disaring dan dimasukan kedalam botol. Penentuan Berat kering (BK) diperoleh dengan mengeringkan beberapa ml filtrat. X ml yang diletakkan di atas cawan petri kemudian ditimbang. Hasil yang didapat (B gram) kemudian dikurangi dengan berat cawan petri (A gram). Perhitungannya sebagai berikut:

BK (gram) = B gram – A gram = C gram

Untuk mendapatkan konsentasi yang digunakan, maka digunakan rumus :

C1 x V1 = C2 x V2

Keterangan:

C1 : Konsentrasi ekstrak daun sirih dalam pelarut air, metanol dan etanol (BK gram/x ml)

C2 : Konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan untuk pengujian (%)

V1 : Volume ekstrak daun sirih yang akan ditambahkan ke dalam 250 ml air

V2 : Volume tetap air 250 ml

Pengujian dalam penelitian ini dilakukan pada gelas plastik yang diisi air 250 ml dan larutan penguji. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5%, 4%,3%, 2%, 1%, 0.5%, 0% (kontrol) dalam tiap larutan yang dilakukan lima kali ulangan. Setelah air dan larutan penguji tercampur dimasukkan 25 ekor larva instar III menggunakan pipet tetes dan diberi makan rebusan hati ayam. Pengamatan dilakukan setiap enam jam sekali setelah larva instar III dikontakkan dengan ekstrak daun sirih. Pengamatan yang dilakukan adalah jumlah kematian larva, jumlah keberhasilan larva menjadi pupa, lama perkembangan larva menjadi pupa, jumlah kematian pupa, jumlah pupa menjadi dewasa dan lama perkembangan pupa menjadi dewasa. Kemudian dilakukan analisis, seperti penentuan LC50 dengan analisis probit.

PEMBAHASAN

Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) Terhadap Larva Aedes aegypti Tiap Konsentrasi dalam Pelarut Metanol, Air dan Etanol

Kematian Larva Aedes agypti

Berdasarkan hasil penelitian yang tertera pada Tabel 1, dapat dijelaskan bahwa pelarut metanol menunjukkan kematian larva lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut etanol dan air. Keberhasilan kematian larva 100% dengan pelarut metanol diperoleh pada konsentrasi 2 %, sedangkan pada pelarut etanol dan air masing-masing pada konsentrasi 4 % dan lebih dari 5 %. Efektifitas daun sirih dalam pelarut metanol lebih tinggi dari pelarut etanol dan air. Hal ini menunjukkan bahwa pelarut metanol mempunyai daya kerja sebagai larvasida lebih tinggi dari pelarut etanol dan air.

Senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun sirih diantaranya adalah senyawa alkaloid, minyak atsiri dan tanin. Selain itu juga daun sirih mengandung senyawa fenolik, glikosida, saponin dan terpenoida. Senyawa alkaloid merupakan senyawa yang dalam bentuk bebas merupakan basa lemah yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam pelarut organik (Anonimous,1996). Senyawa ini bekerja terhadap susunan saraf pusat (Anonimous, 2003). Sifat yang dimiliki senyawa alkaloid inilah yang memberikan pengaruh terhadap kematian larva Aedes aegypti, di mana kematian larva yang efektif terjadi pada pelarut organik, seperti metanol dan etanol.

Menurut Aminah (1995), minyak atsiri yang terkandung dalam daun urang-aring berfungsi sebagai larvasida, dimana LC50 dari ekstrak urang-aring adalah 0,3 Ug. Menurut Kardinan (2002), minyak atsiri yang terkandung dalam daun jukut mampu membunuh larva Aedes aegypti dan menurut Safitri dkk., (2000) dalam Aminah (1995), ekstrak minyak atsiri daun legundi dengan konsentrasi 2 % dapat digunakan sebagai senyawa pengusir serangga seperti Stomaxys calcitrans dan culex Sp. Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas maka dapat dikatakan bahwa kematian larva Aedes aegypti dengan pemaparan ekstrak daun sirih disebabkan oleh minyak atsiri yang terkandung dalam daun sirih.

Selain itu, kematian larva juga disebabkan oleh senyawa tanin yang terkandung dalam daun sirih. Hal ini dilaporkan oleh Aminah (1995) bahwa senyawa tanin yang dikeluarkan oleh eksudasi akar Salvinia natans dapat membunuh larva Cx.quinquefasciatus. Saponin juga merupakan senyawa yang memegang peranan penting terhadap kematian larva Aedes aegypti. Saponin merupakan deterjen alami yang salah satunya terdapat dalam daun sirih, sifat khas yang dimiliki saponin adalah apabila dikocok dengan air akan menimbulkan busa dan larut dalam pelarut organik (Anonimous, 2003). Menurut Aminah (1995), saponin mengandung hormon steroid yang berpengaruh di dalam pertumbuhan larva nyamuk. Kematian larva disebabkan adanya kerusakan taktus digestivus, di mana saponin dapat menurunkan tegangan permukaan traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif.

Berdasarkan hasil analisis probit diperoleh LC50 pada kematian larva terhadap pemberian ekstrak daun sirih dalam pelarut air adalah 8,75668 %; dalam pelarut metanol 0,30314 % dan dalam pelarut etanol 0,87945 %. Ekstrak daun sirih dalam pelarut metanol memiliki LC50 yang terendah dibandingkan dengan kedua pelarut lainnya, sehingga metanol merupakan pelarut yang efektif untuk melarutkan zat-zat dalam daun sirih pada konsentrasi yang rendah, sehingga efektivitas kematian larva Aedes aegypti lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut air dan etanol.

Keberhasilan Larva aedes aegypti Menjadi Pupa

Berdasarkan data pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa rata-rata persentase keberhasilan larva menjadi pupa pada setiap pemaparan ekstrak daun sirih dengan pelarut air, metanol dan etanol semakin menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi yang dipaparkan. Penurunan ini memberikan gambaran adanya hubungan antara kematian larva dengan persentase keberhasilan larva menjadi pupa, dengan kematian larva yang meningkat menyebabkan peluang keberhasilan larva menjadi pupa menurun.

Pemaparan ekstrak daun sirih dengan pelarut air memberikan peluang keberhasilan larva menjadi pupa lebih besar dari kedua pelarut lainnya. Dari ketiga pelarut, yang mempunyai peluang terendah untuk keberhasilan larva menjadi pupa adalah pelarut metanol, sehingga dapat dikatakan bahwa pelarut metanol merupakan pelarut yang efektif untuk melarutkan zat-zat yang terkandung dalam daun sirih yang menjadikannya insektisida nabati (alami). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan metanol sebagai pelarut ekstrak daun sirih mampu menghambat perkembangan larva Aedes aegypti menjadi pupa, sehingga persentase kematian larva Aedes aegypti juga meningkat.

Perubahan pada stadium larva (Moulting) dipengaruhi oleh Prothoracicothropicn Hormon (PTTH) dan hormon ekdison yang bekerja secara sinergis. PTTH disekresikan oleh kedua pasang sel di dalam otak larva, sedangkan hormon ekdison dihasilkan oleh dua kelenjar prothoracis yang dipengaruhi oleh PTTH. Kelenjar tersebut terletak di dalam thoraks serangga. Moulting juga dipengaruhi oleh hormon juvenil yang disekresikan oleh kelenjar di belakang otak larva (Anonimous, 2002).

Lama Perkembangan Larva Aedes aegypti Menjadi Pupa

Proses Moulting pada nyamuk Aedes aegypti akan berjalan dengan baik pada kondisi normal. Dengan pemaparan ekstrak daun sirih ini, akan menjadikan kondisi tidak normal sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan larva menjadi pupa, baik dipercepat ataupun diperlambat. Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 3, diketahui bahwa pemaparan ekstrak daun sirih dalam pelarut metanol dan etanol dengan peningkatan konsentrasi menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk berubah menjadi larva juga dipercepat. Berbeda dengan pelarut air yang menunjukkan perbedaan dari kedua pelarut tersebut, di mana hal ini diduga adanya perbedaan kemampuan untuk bertahan hidup dari setiap individu larva. Akibat perbedaan larva tersebut sehingga dapat memperpanjang atau mempercepat masa pematangannya.

Hasil dalam penelitian ini juga memaparkan bahwa ekstrak daun sirih diduga mempunyai pengaruh pada hormon pengatur pertumbuhan serangga (Unsect Growth Regulators). Hormon ini bertugas mengontrol proses metamorfosis larva menjadi pupa dan mengatur reproduksi serangga (nyamuk). Dengan demikian, penggunaan ekstrak daun sirih dapat mempengaruhi perkembangan larva Aedes aegypti menjadi pupa, sehingga perkembangan tersebut menjadi abnormal dan mempengaruhi siklus kehidupan nyamuk Aedes aegypti.

Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) Terhadap Pupa Aedes aegypti Tiap Konsentrasi dalam Pelarut Metanol, Air dan Etanol

Kematian Pupa Aedes aegypti

Seperti halnya kematian pada larva Aedes aegypti, kematian pada stadium pupa juga meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak daun sirih yang dipaparkan pada masing-masing pelarut. Hal ini menandakan ekstrak daun sirih dapat juga bertindak sebagai puspasida.

Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 4, diketahui bahwa dari ketiga pelarut yang digunakan, pelarut metanol menunjukkan kematian pupa Aedes aegypti yang tinggi dengan konsentrasi yang rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa pelarut metanol lebih efektif sebagai larvasida dan puspasida dibandingkan dengan ekstrak daun sirih pada pelarut air dan etanol. Pelarut metanol dan etanol merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan zat-zat aktif yang terkandung dalam daun sirih (Anonimous, 1996). Sedangkan pelarut air kurang dapat melarutkan zat-zat yang terkandung dalam daun sirih sebaik pelarut metanol dan etanol, sehingga daya puspasidanya lebih rendah dari kedua pelarut tersebut.

Keberhasilan Pupa aedes aegypti Menjadi Dewasa

Berdasarkan data pada Tabel 5, dapat dijelaskan bahwa semakin bertambah konsentrasi yang dipaparkan maka semakin meningkat pula kematian pupa, sehingga peluang untuk perkembangan pupa menjadi dewasa akan menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi yang dipaparkan. Dari perbandingan ketiganya, pada pelarut metanol hanya memerlukan konsentrasi yang kecil untuk menekan perkembangan pupa menjadi dewasa.

Lama Perkembangan Pupa Aedes aegypti Menjadi Dewasa

Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada Tabel 6, dapat dijelaskan bahwa pada pelarut metanol dan etanol menunjukkan lama perkembangan pupa Aedes aegypti menjadi dewasa dipercepat seiring meningkatnya konsentrasi yang dipaparkan. Hal ini berarti mempengaruhi siklus kehidupan nyamuk Aedes aegypti itu sendiri, dimana perkembangan nyamuk tersebut menjadi abnormal dan biasanya tidak bertahan hidup lebih lama sehingga angka kematian nyamuk Aedes aegypti meningkat.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

(1)         Ekstrak daun sirih dengan menggunakan pelarut metanol, air dan etanol dapat berfungsi sebagai pengendali populasi larva nyamuk Aedes aegypti

(2)         Berdasarkan analisis probit yang dilakukan, diperoleh bahwa LC50 ekstrak daun sirih dalam pelarut air ada;ah 8,75668%; dalam pelarut metanol sebesar 0,30314% dan dalam pelarut etanol sebesar 0,87945%. Pelarut metanol memiliki LC50 yang terendah sehingga efektivitas kematian larva Aedes aegypti lebih tinggi pada penggunaan konsentrasi yang kecil dibandingkan pelarut air dan etanol.

(3)         Metanol dan etanol merupakan pelarut yang sangat baik untuk melarutkan zat-zat aktif dalam daun sirih dibandingkan pelarut air sehingga penggunaannya lebih efektif sebagai pelarut ekstrak daun sirih yang berfungsi sebagai larvasida dan puspasida.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, S. N. 1995. Evaluasi Tiga Jenis Tumbuhan Sebagai Insektisida dan Repelan Terhadap Nyamuk di Laboraturium. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anonimous.1996. Mendepak Sariawan dengan Tanaman. http://www.indomedia.com/intisari/1996/des/sriawan.htm.

Anonimous. 2002. Insect Hormones. http://user.rcn.com/jkimbal.ma.ultranet/BiologyPage/I/InsectHormones.html

Anonimous. 2003. Info Penyakit Menular. http://ppmplp.depkes.go.id/detil.asp?m=1&s=2&I=19

Borror, D.J.C.a Triplehorn and N. F. Johnson.1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi ke-6. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Kardinan, A.2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lawuyan, S.M. P. H., 2003. Kontaminasi Program Pengasapan dengan Insektisida. http://www.kompas.com/kompascetak/0312/08/inspirasi/709653.htm.

Maheswari, H. 2002. Pemanfaatan Obat alami : Potensi dan Prospek Pengembangannya. http:/rudyct.tripod.com/sem2_012/hera_maheswari.htm.

Soedarto, 1989. Entomologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Surabaya

Womack, M. 1993. The Yellow Fever Mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats, vol. 5(4):4. http://rci.rutgers.edu/~insect/sp5.htm.

 

Posted by on 20 June 2010 in Academic

Leave a comment

Tahukah Anda Tentang Ribosom ???

GAMBARAN UMUM ORGANEL RIBOSOM

Ribosom merupakan partikel padat yang tidak dibatasi membran. Ribosom terdiri dari sub unit besar dan sub unit kecil. Ribosom merupakan partikel yang kampak/padat ini terdiri dari ribonukleoprotein, melekat atau tidak pada permukaan external dari membran RE, yang memungkinkan sintesa protein. Ribosom merupakan suatu partikel ribonukleoprotein yang berukuran kecil (20 X 30 nm). Ribosom terdiri dari dua unit yang dihasilkan didalan nukleolus. Ribosom meninggalkan inti sebagai unit terpisah melalui pori inti. Ribosom utuh dibentuk di dalam sitoplasma. Penyatuan ribosom di ditoplasma adalah untuk mencegah terjadinya sintesis protein didalam inti.

Sifat Organel Ribosom

  • Bentuknya universal, pada potongan longitudinal berbentuk elips.
  • Pada teknik pewarnaan negatif, tampak adanya satu alur transversal, tegak lurus pada sumbu, terbagi dalam dua sub unit yang memiliki dimensi berbeda.
  • Dengan ultrasentrifugasi yang menurun pada kedua sub unit ribosom tersebut dapat dipisahkan sehingga dapat penyusunnya dapat dideterminasis. Sub unit-sub unit berasosiasi secara tegak iurus pada bagian sumbu dalam aiur yang memisahkannya.
  • Setiap sub unit dicirikan oleh koefisiensi sedimentasi yang dinyatakan dalam unit Svedberg (S). Sehingga koefisien sedimentasi dari prokariot adalah 70S untuk keseluruhan ribosom (50S untuk sub unit yang besar dan 30S untuk yang kecil). Untuk eukariot adalah 80S untuk keseluruhan ribosom (60S untuk sub unit besar dan 40S untuk yang kecil).
  • Dimensi ribosom serta bentuk menjadi bervariasi. Pada prokariot, panjang ribosom adalah 29 nm dengan besar 21 nm. Dan eukariot, ukurannya 32 nm dengan besar 22 nm.
  • Pada prokariot sub unitnya kecil, memanjang, bentuk melengkung dengan 2 ekstremitas, memiliki 3 digitasi, menyerupai kursi. Pada eukariot, bentuk sub unit besar menyerupai ribosom E. coli.

Komposisi Kimia

Asam nukleat ribosom:

– Sub unit besar dibentuk dari protein dan RNA dalam kuantitas yang seimbang, mengandung 2 tipe rRNA, yakni:

•      Satu rRNA 28S

•      Satu rRNA SS

–    Sub unit kecil mengandung r RNA 18s.

Diketahui bahwa, dengan ketiadaan RNA 185, maka sub unit besar tidak dapat berasosiasi pada sub unit kecil. Sedangkan RNA 28s memungkinkan asosiasi tersebut. RNA SS melekat pada sequence asam nukleat ini yaitu tRNA. Bilamana terbaca maka tRNA melekat pada site yang merupakan bagian RNA 285. Perpindahan dari tRNA yang melekat pada molekul mRNA menyebabkan pergerakan translasi mRNA masing-masing.

Protein ribosomal

  1. Sub unit kecil (30S prokariot): 21 protein digambarkan berturut-turut dengan huruf S dan satu angka antara 1 dan 21 (S1, S2, S21). Berat moleku130.000 – 40.000 Dalton. Berada pada permukaan ribosom, mengelilingi rRNA. Protein memainkan peranan sebagai reseptor pada faktor pemanjangan sedangkan yang lainnya mengontrol transducti.
  2. Sub unit besar: 33 protein dikenal sebagai Li sampai L33. Terlibat dalam:
  • Translokasi oleh adanya GTP (melekat pada ribosam) yang memberikan energi untuk memindahkan inRNA dan pembebasan tRNA asetil.
  • Fiksasi (protein L7 dan L1z) dari suatu faktor pemanjangan (EF-6)
  • Dalam pembentukan suatu ikatan peptida antar rantai peptida yang telah dibentuk dan suatu asetil-NH2 baru.
  • Dalam konstruksi suatu alur longitudinal, menempatkan rantai protein dengan pembentukan dan melindunginya meiawan enzim proteolitik. Alur ini memiliki panjang sesuai dengan rantai polipeptida 35 asetil-NH2.

SINTESIS PROTEIN

Sebelum pembelahan sel, DNA di dalam kromosom mengganda sehingga setiap sel anak memiliki kromosom yang sama. DNA bertanggungjawab untuk mengkode semua protein. Setiap asam amino di kode oleh satu atau lebih triplet nukleotida. Kode ini dihasilkan dari satu untai DNA melalui proses yang disebut dengan transkripsi. Proses ini menghasilkan mRNA yang akan dibawa keluar dari inti untuk selanjutnya diterjemahkan menjadi protein. Hal ini dapat dilakukan karena pada sitoplasma terdapay kelompok ribosom yang disebut dengan poliribosom. Atau dapat dilakukan pada ribosom yang menempel pada reticulum endoplasma.

Kode seperti yang disebut di atas diterjemahkan pada suatu struktur yang disebut ribosom yang juga dibuat di dalam inti. Ribosom ini merupakan tempat bagi mRNA di mana mRNA akan terikat. Asam amino untuk sintesis protein akan di bawa ketempat ini oleh RNA transfer (tRNA). Setiap tRNA memiliki triplet yang akan berikatan dengan urutan nuklotida yang sesuai pada mRNA. Sebagai contoh fenil alanin yang terikat pada tRNA yang miliki tiplet AAA (adenin-adenin-adenin) akan berikatan dengan urutan nukleotida yang sesuai pada  mRNA yaitu UUU (urasil, urasil, urasil).

Inisiasi. Proses inisiasi dimulai ketika ribosom subunit kecil berikatan dengan mRNA. Inisiator tRNA yang membawa metionin berikatan pada daerah AUG yang mengkode asam amino metionin. Selanjutnya ribosom sub unit besar akan menempel Pada ribosom subunit kecil. Catatan, sisi A dan sisi P merupakan tempat pengikatan tRNA.

Elongasi. komponen oleh tRNA bergerak dari sisi A ke sisi P. Sisi A merupakan tempat bagi tRNA berikitnya. contoh ini adalah tRNA yang membawa prolin yang dibawa oleh tRNA yang memiliki kode GGC. tRNA ini akan berpasangan dengan urutan nukleotida CCG pada mRNA.  Setelah menempel pada sisi A, metionin dan protein akan diikat oleh ikatan eptide. Selanjutnya tRNA yang pertama (yang membawa metionin) akan meninggalkan ribosom dan tRNA yang membawa prolin akan berpindah kesisi A. Ribosom selanjunya akan bergerak ke triplet berikutnya dengan arah 5’ – 3’ (ditunjukkan oleh arah panah pada mRNA). Sedangkan tRNA akan bergerak dari arah 3’ – 5.

Ribosom selanjutnya akan membaca kode dengan arah 5′ – 3′ dan menambahkan asam amino pada rantai peptide. Pada gambar tRNA yang membawa glisin yang dikode oleh CCA, berpasangan dengan basa GGU pada mRNA. Proses ini akan berjalan terus sampai mencapai stop codon. Pada gambar di bawah diperlihatkan dengan tanda merah.

Akhir translasi (terminasi). Ketika robosom mencapai stopkodon, dan tidak ada tRNA yang menempel maka ribosom sub uni kecil dan besar akan terpisah dan meninggalkan mRNA.

 

Posted by on 20 June 2010 in Academic

Leave a comment